Wakil Ketua Pta Sulbar Kunjungi Pa Majene : Nostalgia Tanah Mandar Dan Ilmu Tahu Diri

Majene – 26 Februari 2026
Langit cerah di atas Tanah Mandar setelah beberapa hari dinaungi awan gelap dan hujan lebat mengawali kunjungan Wakil Ketua Pengadilan Tinggi (PTA) Sulawesi Barat. Dr. Drs. Sirajuddin Sailellah, S.H., M.H.I. dan jajarannya di Pengadilan Agama (PA) Majene. Start dari pintu depan resepsionis haluan kanan hingga berkeliling menyusuri satu persatu ruang di PA Majene. Senyum sapa beliau tumpah ruah sepanjang berpapasan dengan pegawai yang ada sebagai pembuka kunjungan Pembinaan beliau.

Mengawali pembinaannya, Dr. Sirajuddin sedikit membawa segenap pegawai PA Majene memutar waktu kembali ke masa 30 tahun silam. Masa di mana saat beliau baru meniti karir sebagai Calon Hakim (Cakim). Satu persatu beliau menyembutkan nama-nama senior dan rekan sejawatnya serta kisah yang menyertainya. Hingga bisik seorang pegawai membuat beliau berhenti sejenak, kabar kenyataan beberapa diantara mereka telah tutup usia. Dalam Jeda haru itu kemudian beliau mengajak seluruh hadirin bersama-sama mengirimkan do’a “Lahumul Fatihah”, ucapnya.

Selanjutnya dalam arahannya yang santai nan bernas, Pejabat Peradilan Tinggi yang sebelumnya bertugas di Maluku itu menekankan pentingnya kesadaran diri dalam melayani. Beliau mengingatkan untuk Melayani dengan Kesadaran Uang Rakyat untuk Rakyat. “Sadari dulu bahwa Pengadilan Agama ini dari uang rakyat, dengan demikian ada kesadaran untuk melayani rakyat,“ Pesan beliau.

Beliau juga berpesan agar setiap individu menanamkan kebaikan di mana pun berada sebagai bentuk syukur. “Rezki itu luas, bukan hanya dari kantor. Jaga hubungan baik dengan sesama dan jangan pernah melupakan jasa orang lain, “ tambahnya.

Catatan Penting Untuk PA Majene

“Saya punya catatan penting untuk PA Majene” seloroh beliau sembari merogoh tas hitam kecil lalu mengeluarkan Smartphone.
•    Terkait manajemen organisasi, WKPTA memberikan catatan khusus untuk PA Majene agar tetap menjaga harmonisasi antara unsur pimpinan (Ketua, Wakil, Panitera, dan Sekretaris). Menurutnya, jika keempat pilar ini harmonis, kantor akan nyaman. Jika tidak, kantor akan berantakan.

•    Delegasi Tugas: Pemimpin jangan seperti "tukang sate" (yang mengerjakan semuanya sendir, mengipas, membakar, hingga menyajikan). Berikan kepercayaan kepada bawahan, delegasikan.

•    Pesan paling berkesan dari Pria kelahiran Sungguminasa itu adalah dua ilmu penting berasal dari filosofi moral yang harus dipegang teguh, yakni Ilmu Tahu Diri dan Ilmu Tahu Batas. "Kalau adik-adik pegang dua ilmu ini, kantor pasti aman," jelasnya disambut senyum para pegawai.

•    Soal performa kerja, Dr. Sirajuddin menyoroti data Kinsatker PA Majene yang masih fluktuatif (peringkat 58, 152, 95, ke 130). Beliau membagikan tips suksesnya dahulu: bagi habis 26 item penilaian kepada seluruh pegawai. kalau ini dijalankan beliau optimis akan ada perbaikan dan kemajuan bagi PA Majene.

Akhirnya Bapak 5 orang anak itu menutup dengan wejangan bahwa jangan pernah ada yang merasa lebih penting di kantor ini. Kita semua satu kesatuan yang saling mendukung. “Ibarat komputer” tukasnya yang tidak mungkin berjalan jika ada satu bagian yang tidak berfungsi.
(MIbI)


Pelukan Hangat di Ujung Pertemuan

Suasana berubah haru sesaat sebelum rombongan kembali ke Mamuju. Di ruang tamu PA Majene, Dr. Sirajuddin bertemu dengan beberapa rekan sejawat masa mudanya yang masih ada. Pelukan hangat dan tetesan air mata tak terbendung menyambut pertemuan "reuni tipis" tersebut. Hadir dalam moment bahagia itu Purna Bakti Ibu Hj. Wastiah, S.Ag (Pandmud Hukum), Bpk. Drs. H. M. Taufik (Wakil Panitera) serta dari ujung telepon seluler Ibu Hj. Wardiah Nur, B.A (Panitera Pengganti). Kehadiran anak-anak dari sahabat beliau yang telah meninggal dunia juga tidak kalah hangatnya.

                      

Tutur kisah pahit getir warna kehidupan lalu tak bisa menutup warna rambut dan raut wajah yang tak lagi sama termakan usia senja. Lama larut dalam cerita sedih, tawa ceria seketika pecah saat beliau-beliau mulai melontarkan candaan-candaan khas masa muda mereka dahulu. Pertemuan itu ditutup dengan kehangatan, meninggalkan pesan mendalam bagi PA Majene: bahwa bekerja bukan hanya soal angka, tapi soal pengabdian dan rasa kemanusiaan. (MIbI)