Kultum Ba'da Ashar "Cara Allah Menyayangi Kita"

  

Majene, Jumat 26 Mei 2023 - Pada Ba'da Sholat Ashar Berjamaah Hari ini seluruh Civitas Pengadilan Agama Majene mengikuti Kegiatan Kultum Di Mushalla Baitul Hikmah. Yang Bertindak Sebagai Pemberi Kultum Pada Hari ini Adalah Analisis Perkara Peradilan Pengadilan Agama Majene Arfian Setiantoro, S.H., dengan Materi Kultum Cara Allah Menyayangi Kita.

Cara Allah menyayangi kita terkadang bukan dengan memberi kita hidup dalam limpahan harta, Tapi dengan memberi kita hidup penuh kesederhanaan, Sebab Allah ingin meringankan hisab kita. Cara Allah menyayangi kita terkadang bukan dengan memberi kita kesehatan, Tapi dengan memberi kita sakit, Sebab Allah ingin menghapus dosa-dosa kita.

Cara Allah menyayangi kita terkadang bukan dengan cara memberi kita kebahagiaan dan kenyamanan, Tapi dengan memberi kita berbagai musibah dan ujian, Sebab Allah ingin meninggikan derajad kitakelak di surga. Cara Allah menyayangi kita terkadang bukan dengan cara mengabulkan apa yang engkau inginkan, Tapi dengan menunda doa kita atau menggantikan sesuatu yg lain, Sebab Allah tahu  bahwa ada bahaya dibalik yang kau minta.

Untuk itu tetaplah berhusnudzon kepada Allah, atas segala kesusahan, sakit, ujian, kesulitan dan kegagalan yang kita hadapi. Karena jalan untuk menuju surga-Nya itu tak mudah,

Butuh ujian agar kita mendapatkan banyak pahala dari-Nya, Butuh kesabaran agar kita mendapat ridho-Nya, Butuh sakit agar kita mendapatkan ampunan-Nya, Butuh pengorbanan agar kita mendapatkan kedudukan yg tinggi di surga-Nya.

Begitulah terkadang cara-cara Allah menyayangi kita, Bahkan beberapa luka diciptakan untuk tidak sembuh, agar menjadi pelajaran bermakna dan jika kita IKHLAS, maka akan mendapat pahala, Maka bersabarlah pada semua takdir yang kau hadapi, Sungguh pada akhirnya engkau akan mengerti bahwa dibalik semua yang telah Allah gariskan ternyata menyimpan banyak kebahagian dan kebaikan.

Cerita mengenai keikhlasan Dikisahkan kondisi ekonomi keluarga Abu Nawas sedang mengalami kesulitan, Ia pun berinisiatif mencari pekerjaan untuk menafkahi keluarganya, Maka pergilah Abu Nawas ke pasar untuk mencari pekerjaan yang baik untuknya, Beberapa toko di pasar sudah ia kunjungi dan akan melamar pekerjaan namun tak satupun yang berminat menggunakan jasa tenaganya.

Hingga waktu menjelang siang Abu Nawas masih belum juga mendapatkan pekerjaan, dengan perasaan kecewa Abu Nawas memutuskan kembali ke rumah, Ketika tengah menyusuri jalanan sepi tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu, Karena penasaran Abu Nawas membungkuk dan mengambilnya.

  

"Ternyata cuman koin penyok yang sudah karatan," gerutu Abu Nawas kecewa, Meskipun begitu ia memasukkan koin tersebut ke dalam sakunya kemudian ia melanjutkan langkahnya pulang ke rumah. Saat ia melewati toko barang antik ia ditegur oleh si pemilik toko yang kebetulan adalah sahabatnya "Hei Abu Nawas dari mana? mampirlah kemari," pintanya.

Abu Nawas pun mampir ke toko sahabatnya itu, ia kemudian dipersilahkan duduk dan diajaknya minum secangkir teh hangat. "Dari pagi aku mencari pekerjaan tapi belum juga aku dapatkan," ucap Abu Nawas membuka obrolan. "Kondisi pasar memang sedang lesu Abu Nawas, kamu sendiri lihatkan tokoh saya terlihat sepi," balas sahabatnya.

"Oh iya tadi aku menemukan koin tapi kondisinya sudah penyok dan karatan kalau kamu berminat ambil saja," kata Abu Nawas.

Sambil menyerahkan koinnya sahabatnya Itu tampak serius mengamati koin pemberian Abu Nawas. "Ini kan koin barang antik Abu Nawas banyak yang mencarinya, kemarin saja ada saudagar kaya datang kemari ia hendak membeli koin seperti ini. Begini saja Abu Nawas kamu sedang butuh uang kan sebagai imbalannya aku kasih kamu uang 300 Dinar," jelas sabatanya "Kamu serius?," tanya Abu Nawas kaget. "Ya iyalah saya serius," balas sahabatnya sambil memberikan uang 300 Dinar.

Setelah menerima uang tersebut, Abu Nawas buru-buru pulang. Ia berencana membeli makanan unik keluarganya. Di tengah jalan Abu Nawas berpapasan dengan seseorang yang sedang membawa kambing terlintaslah di benak Abu Nawas ingin membeli kambing tersebut untuk dijadikan hidangan, Tapi sayangnya uang yang ia punya hanya 300 Dinar

"Kamu berminat membeli kambing ini?," tanya orang tersebut. "Iya tapi uangku cuman 300 Dinar," jawab Abu Nawas. "Tidak apa-apa aku memang hendak menjualnya 300 Dinar," balas orang tersebut.

Akhirnya Abu Nawas berjalan pulang dengan membawa seekor kambing dan lagi-lagi ketika ia melewati rumah saudagar kaya Abu Nawas dipanggilnya "Hai Abu Nawas sini aku beli kambing nanti malam aku mau mengadakan pesta keluarga," ucap saudagar kaya. "Boleh tapi harganya seribu dinar," jawab Abu Nawas asal-asalan, Tanpa diduga saudagar kaya tersebut menyetujuinya, "Yaa sini aku bayar," kata saudagar kaya dengan senang hati.

Abu Nawas menjual kambingnya, sebab Ia mendapat untung 700 Dinar. Maka pulanglah Abu Nawas dengan membawa uang seribu dinar.

Sialnya saat ia hendak masuk rumah Abu Nawas dihadang sekawanan perampok, Salah satu dari mereka mengacungkan pisau belati ke arah Abu Nawas "Berikan uangmu atau aku akan membunuhmu," ancam si perampok. Dengan tubuh gemetaran Abu Nawas memberikan uang seribu dinar miliknya. Sementara Istri Abu Nawas yang melihat kejadian itu dari balik jendela langsung keluar dan berteriak. "Hai apa yang kalian lakukan?," Mendengar teriakan tersebut para perampok ini langsung kabur tunggang langgang. "Apa yang terjadi? engkau baik-baik saja kan? apa yang diambil oleh perampok tadi?," tanya sang istri.

Tak ingin membuat istrinya marah Abu Nawas mengangkat bahunya dan berkata. "Oh bukan apa-apa hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi," Abu Nawas pun berjalan memasuki rumahnya. Di dalam rumah Abu Nawas duduk melamun meratapi kejadian yang menimpanya. "Mungkin uang tadi bukan rezeki saya," batin Abu Nawas menghibur diri.

Beberapa lama kemudian tiba-tiba pintu rumahnya diketuk seseorang. Abu Nawas beranjak dari tempat duduk dan membukakan pintu, Ternyata tamu yang datang adalah sahabatnya pemilik toko barang-barang antik itu "Hai Abu Nawas Ada kabar gembira untukmu koin yang kamu temukan ternyata laku sampai 10.000 Dinar aku pikir akan lebih bijak bila hasilnya dibagi dua denganmu," kata sahabatnya. "Tadi siangkan aku sudah memberimu 300 Dinar dan Ini sisanya 4700 Dinar, silahkan diterima," ucap sahabatnya sambil memberikan uang sisanya "Alhamdulillah Terima kasih kawan," balas Abu Nawas.

Dari kisah ini kita dapat mengambil hikmah bahwa Kesabaran hati saat menerima musibah pasti akan berbuah kemanisan.